Tradisi dan Budaya Sunda yang Masih Lestari di Tasikmalaya

Tradisi dan Budaya Sunda yang Masih Lestari di Tasikmalaya

Secara etimologis, kata “budaya” berasal dari bahasa Sanskerta buddhayah, yang merupakan bentuk jamak dari buddhi (budi atau akal). Budaya adalah totalitas dari cara hidup suatu masyarakat. Ia mencakup sistem ide, gagasan, nilai, norma, hukum, serta karya nyata yang dihasilkan manusia dalam kehidupan bermasyarakat.

Budaya bersifat sangat luas dan dinamis. Ia merupakan “payung besar” yang menaungi segala sesuatu yang kita pelajari dan kita wariskan, mulai dari bahasa yang kita gunakan, teknologi yang kita ciptakan, hingga cara kita memandang benar dan salah. Singkatnya, budaya adalah identitas kolektif yang membedakan satu kelompok manusia dengan kelompok lainnya.

Tradisi berasal dari bahasa Latin tradere yang berarti mengirim atau menyerahkan. Tradisi adalah mekanisme transmisi dari budaya tersebut. Jika budaya adalah isi pesannya, maka tradisi adalah proses pengiriman pesan tersebut dari satu generasi ke generasi berikutnya.

Tradisi merujuk pada kebiasaan, kepercayaan, atau praktik spesifik yang telah dilakukan dalam waktu yang sangat lama sehingga menjadi bagian tak terpisahkan dari suatu kelompok. Sesuatu dapat disebut tradisi jika ia memiliki elemen kontinuitas (keberlanjutan). Contohnya adalah upacara adat pernikahan, perayaan hari besar, atau tata krama khusus saat makan. Untuk memudahkan pemahaman, kita bisa melihat perbedaannya melalui poin berikut:

  • Ruang Lingkup: Budaya mencakup segala hal (abstrak maupun konkret), sedangkan tradisi lebih spesifik pada perilaku atau ritual yang diulang-ulang.
  • Sifat: Budaya bisa berubah dengan cepat karena pengaruh globalisasi atau teknologi. Tradisi cenderung lebih konservatif dan bertahan dari perubahan demi menjaga nilai orisinalitasnya.
  • Fungsi: Budaya berfungsi sebagai fondasi identitas sosial, sementara tradisi berfungsi sebagai perekat sosial yang menghubungkan masa lalu dengan masa kini.

Kesimpulan
Budaya dan tradisi adalah dua sisi dari koin yang sama. Tanpa budaya, tradisi tidak memiliki makna atau nilai yang mendasarinya. Sebaliknya, tanpa tradisi, budaya akan hilang ditelan zaman karena tidak ada sarana untuk mewariskannya kepada anak cucu. Tradisi memastikan bahwa nilai-nilai luhur sebuah budaya tetap hidup dan relevan, meskipun dunia terus berkembang.

Intinya: Budaya adalah tentang siapa kita dan apa yang kita miliki, sedangkan tradisi adalah tentang bagaimana kita menjaga hal-hal tersebut tetap ada sepanjang waktu.

Tasikmalaya sering kali dijuluki sebagai “Sang Mutiara dari Priangan Timur”. Julukan ini bukan sekadar merujuk pada kemajuan ekonominya, melainkan pada kekayaan warisan budaya dan tradisi Sunda yang masih terjaga kemurniannya. Di tengah arus modernisasi yang kian kencang, masyarakat Tasikmalaya—baik di wilayah kota maupun kabupaten—memiliki ikatan emosional dan spiritual yang kuat dengan adat istiadat leluhur.

Budaya Sunda di Tasikmalaya bukan sekadar artefak masa lalu yang dipajang di museum, melainkan sebuah entitas yang hidup, bernafas, dan dipraktikkan dalam keseharian. Mari kita telusuri lebih dalam berbagai tradisi dan budaya Sunda yang masih lestari dan menjadi identitas tak terpisahkan bagi masyarakat Tasikmalaya.


1. Upacara Adat dan Siklus Hidup: Penghormatan pada Alam dan Sang Pencipta

Masyarakat Sunda di Tasikmalaya sangat memegang teguh konsep Silih Asih, Silih Asah, dan Silih Asuh. Hal ini tercermin dalam berbagai upacara adat yang berkaitan dengan siklus hidup manusia.

Hajat Lembur dan Memuja Alam

Di daerah pedesaan Tasikmalaya, tradisi Hajat Lembur atau Sedekah Bumi masih rutin dilaksanakan, terutama setelah masa panen. Tradisi ini merupakan bentuk rasa syukur kepada Tuhan Yang Maha Esa atas hasil bumi yang melimpah. Warga berkumpul membawa tumpeng dan hasil tani, berdoa bersama, dan makan secara komunal (botram). Ini adalah manifestasi nyata dari ketahanan pangan dan solidaritas sosial.

Tradisi Mengenang Leluhur: Nyekar dan Ruwatan

Menjelang bulan suci Ramadhan, tradisi Nyekar atau ziarah kubur menjadi pemandangan umum di seluruh penjuru Tasikmalaya. Masyarakat berbondong-bondong membersihkan makam keluarga dan mendoakan arwah leluhur. Selain itu, di beberapa kantong budaya, masih ditemukan praktik Ruwatan, sebuah ritual pembersihan diri atau lingkungan dari energi negatif melalui pertunjukan seni seperti Wayang Golek.


2. Kampung Naga: Benteng Terakhir Keaslian Adat Sunda

Membahas kelestarian budaya di Tasikmalaya tidak mungkin tanpa menyebut Kampung Naga. Terletak di Desa Neglasari, Kecamatan Salawu, Kampung Naga adalah sebuah komunitas yang secara sadar menolak modernisasi demi menjaga amanat leluhur.

  • Arsitektur Rumah: Semua rumah di Kampung Naga harus menghadap ke arah yang sama (Utara atau Selatan) dan terbuat dari bahan alami: bambu, kayu, dan atap rumbia atau ijuk. Tidak ada listrik dan tidak ada furnitur modern.

  • Sistem Kepercayaan: Mereka sangat patuh pada aturan adat yang disebut Tatali Karuhun. Meskipun mayoritas beragama Islam, mereka tetap menjalankan ritual penghormatan kepada alam dan nenek moyang secara berdampingan.

  • Upacara Menyepi: Dilakukan secara berkala untuk membersihkan diri. Kampung Naga adalah bukti nyata bahwa tradisi Sunda mampu bertahan ribuan tahun jika ada komitmen kolektif dari masyarakatnya.


3. Seni Pertunjukan: Cerminan Karakter Masyarakat

Tasikmalaya adalah gudang seniman tradisi. Seni pertunjukan di sini bukan sekadar hiburan, melainkan media dakwah dan penyampai pesan moral.

Wayang Golek

Wayang Golek tetap menjadi primadona. Di Tasikmalaya, pertunjukan wayang sering kali diselipkan nilai-nilai religius, mengingat kota ini juga dikenal sebagai “Kota Santri”. Karakter seperti Cepot, Dawala, dan Gareng digunakan untuk mengkritik fenomena sosial dengan cara yang jenaka namun mendalam (bobodoran).

Kesenian Terbang Sebelas dan Calung

Seni Terbang Sebelas adalah musik perkusi tradisional yang bernuansa Islami, sering tampil dalam acara khitanan atau pernikahan. Sementara itu, Calung yang terbuat dari bambu tetap populer di kalangan anak muda pedesaan. Bunyi bambu yang saling bersahutan mencerminkan keceriaan dan keramahan khas orang Sunda.

Tari Payung Geulis

Seperti yang telah dibahas dalam ikonografi kota, Payung Geulis tidak hanya benda mati. Ada tarian khusus yang menggunakan payung ini sebagai properti utama. Gerakan yang gemulai namun tegas melambangkan perlindungan dan kecantikan wanita Sunda di Tasikmalaya.


4. Kearifan Lokal dalam Arsitektur dan Tata Kota

Meski bangunan beton mulai mendominasi, filosofi arsitektur Sunda masih bisa ditemukan pada bangunan-bangunan pemerintahan dan masjid di Tasikmalaya. Atap model Julang Ngapak (seperti burung yang sedang mengepakkan sayap) sering digunakan untuk memberikan identitas kedaerahan.

Penggunaan bambu dalam konstruksi bangunan semi-permanen atau gazebo (saung) di area persawahan dan tempat makan juga menunjukkan bahwa masyarakat Tasikmalaya masih merasa nyaman dan bangga dengan material lokal yang ramah lingkungan.


5. Kuliner Tradisional: Warisan Rasa yang Autentik

Budaya makan di Tasikmalaya sangat dipengaruhi oleh agrarisitas wilayahnya. Tradisi Ngaliwet (memasak nasi liwet bersama-sama) adalah ritual sosial yang sangat kuat.

  • Tutug Oncom (TO): Kuliner legendaris ini adalah perpaduan nasi dengan oncom bakar/goreng. TO adalah simbol kesederhanaan namun penuh gizi. Perdagangan TO yang masif di Tasikmalaya menunjukkan bahwa lidah masyarakat tetap setia pada cita rasa tradisional.

  • Lalapan dan Sambal: Budaya makan orang Sunda yang sangat bergantung pada sayuran mentah (lalapan) tetap terjaga. Ini mencerminkan hubungan harmonis dengan alam sekitar.


6. Bahasa dan Sastra Sunda: Penjaga Logika Budaya

Bahasa Sunda dialek Tasikmalaya dikenal memiliki kehalusan (undak-usuk basa) yang cukup terjaga. Penggunaan kata “abdi” (saya) atau “nuhun” (terima kasih) dengan intonasi yang lembut masih menjadi standar etika berkomunikasi, terutama saat berbicara dengan orang yang lebih tua.

Sastra lisan seperti Sisindiran (pantun Sunda) dan Pupuh (puisi lama yang ditembangkan) masih diajarkan di sekolah-sekolah dan sering dilombakan dalam acara festival budaya tahunan.


7. Sistem Kekerabatan dan Gotong Royong

Istilah “Silih Jaga” sangat terasa dalam kehidupan bertetangga di Tasikmalaya. Tradisi gotong royong dalam membangun rumah atau memperbaiki saluran irigasi sawah masih berjalan tanpa pamrih materi. Di wilayah pedesaan, jika ada warga yang mengalami musibah, seluruh desa akan turun tangan memberikan bantuan baik berupa tenaga maupun logistik.


Tantangan Pelestarian di Era Digital

Tentu saja, melestarikan budaya di tahun 2026 bukan tanpa hambatan. Budaya populer global melalui platform digital sangat cepat mempengaruhi gaya hidup generasi muda. Namun, Tasikmalaya memiliki strategi unik: Adaptasi, bukan Isolasi.

Banyak seniman Tasikmalaya kini menggunakan media sosial untuk mempromosikan budaya Sunda. Video-video lucu berbahasa Sunda dialek Tasik, tutorial melukis Payung Geulis di YouTube, hingga penjualan kerajinan bambu di marketplace internasional adalah bentuk perlawanan terhadap kepunahan budaya.


Kesimpulan: Budaya Sebagai Penuntun Masa Depan

Tradisi dan budaya Sunda yang masih lestari di Tasikmalaya adalah bukti bahwa kemajuan ekonomi sebuah kota tidak harus mengorbankan akar identitasnya. Masyarakat Tasikmalaya berhasil membuktikan bahwa mereka bisa menjadi masyarakat yang modern secara pemikiran, namun tetap “nyunda” secara perilaku dan etika.

Menjaga kelestarian budaya ini bukan hanya tugas pemerintah, tetapi tugas kolektif setiap individu. Dengan mencintai produk lokal, menggunakan bahasa ibu, dan menghargai upacara adat, kita memastikan bahwa “Mutiara dari Priangan Timur” akan terus bersinar dengan cahaya kebudayaannya sendiri bagi generasi yang akan datang.


Tabel Ringkasan Warisan Budaya Tasikmalaya

Kategori Contoh Tradisi/Budaya Makna Filosofis
Pusat Adat Kampung Naga Ketaatan pada leluhur dan alam
Kesenian Wayang Golek, Tari Payung Pendidikan moral dan keindahan
Kuliner Tutug Oncom, Ngaliwet Kebersamaan dan kesederhanaan
Filosofi Hidup Silih Asih, Silih Asah, Silih Asuh Harmoni sosial dan kasih sayang
Ritual Hajat Lembur, Nyekar Syukur dan penghormatan leluhur