Menelusuri Jejak Estetika: Ragam Kesenian di Kota Tasikmalaya

Perkembangan Ragam Kesenian di Kota Tasikmalaya

Perkembangan Ragam Kesenian di Kota Tasikmalaya

Kota Tasikmalaya, yang sering dijuluki sebagai “Sang Mutiara dari Priyangan Timur”, bukan hanya dikenal sebagai pusat perdagangan dan industri kreatif di Jawa Barat, tetapi juga sebagai rahim bagi berbagai bentuk kesenian yang kaya akan nilai filosofis, sejarah, dan estetika. Terletak di jalur strategis selatan Jawa, Tasikmalaya menjadi titik temu budaya yang harmonis, di mana nilai-nilai religiusitas Islam yang kuat berpadu manis dengan tradisi Sunda yang luhur.

Artikel ini akan mengupas tuntas kekayaan seni Tasikmalaya, mulai dari seni pertunjukan yang memukau hingga kerajinan tangan yang telah mendunia.


1. Seni Pertunjukan: Warisan Tradisi yang Tetap Hidup

Seni pertunjukan di Tasikmalaya mencerminkan karakter masyarakatnya yang dinamis namun tetap memegang teguh akar tradisi. Beberapa kesenian bahkan telah diakui sebagai Warisan Budaya Takbenda.

Payung Geulis: Seni dalam Fungsionalitas

Meskipun lebih dikenal sebagai produk kerajinan, pembuatan Payung Geulis sebenarnya adalah sebuah proses seni yang melibatkan ketelatenan tinggi. Secara historis, Payung Geulis adalah simbol status sosial dan keanggunan wanita Tasikmalaya. Motif bunga yang dilukis secara manual di atas kertas atau kain sutra bukan sekadar hiasan, melainkan representasi keindahan alam Priyangan. Saat ini, Payung Geulis sering digunakan dalam tarian penyambutan atau parade budaya sebagai elemen estetis yang dominan.

Tari Payung Geulis

Sebagai turunan dari kerajinan khasnya, muncullah Tari Payung Geulis. Tarian ini biasanya dibawakan oleh sekelompok penari wanita dengan gerakan yang gemulai, melambangkan kecantikan dan kesantunan gadis Sunda. Gerakan membuka dan menutup payung diatur sedemikian rupa untuk menciptakan visual yang dinamis, menggambarkan perlindungan dan kebahagiaan.

Kesenian Terbang Sebelas

Mengingat julukan Tasikmalaya sebagai Kota Santri, pengaruh Islam sangat kuat dalam keseniannya. Terbang Sebelas adalah kesenian musik perkusi yang menggunakan sebelas buah rebana dengan ukuran yang berbeda-beda. Kesenian ini biasanya mengiringi puji-pujian kepada Allah SWT dan shalawat kepada Nabi Muhammad SAW. Keunikan Terbang Sebelas terletak pada harmonisasi ritme yang kompleks, yang membutuhkan konsentrasi dan kekompakan tim yang luar biasa.

Calung dan Angklung Tasik

Meskipun Calung dan Angklung tersebar di seantero tanah Sunda, Tasikmalaya memiliki gaya permainan yang khas. Calung biasanya dipadukan dengan lawakan (bobodoran) yang segar, menjadikannya sarana hiburan rakyat yang sangat populer dalam acara hajatan atau perayaan desa.


2. Kesenian Rakyat dan Tradisi Ritual

Masyarakat Tasikmalaya memiliki cara unik dalam mensyukuri nikmat alam melalui kesenian ritual yang bersifat komunal.

Lais: Atraksi Akrobatik di Atas Bambu

Lais adalah salah satu kesenian tradisional yang paling mendebarkan. Seorang pemain Lais akan memanjat sebatang bambu yang sangat tinggi, lalu melakukan gerakan akrobatik di atas tali yang direntangkan di antara dua bambu. Kesenian ini melambangkan ketangkasan, keberanian, dan keseimbangan hidup. Penonton biasanya dibuat tegang sekaligus kagum dengan kelihaian sang penari yang seolah menantang maut tanpa pengaman modern.

Kuda Lumping dan Reog

Kuda Lumping di Tasikmalaya memiliki corak yang sedikit berbeda dengan versi Jawa Tengah. Di sini, unsur magis sering kali berpadu dengan ketangkasan bela diri (pencak silat). Sementara itu, Reog Dogdog (yang menggunakan alat musik dogdog) sering kali menjadi media dakwah atau penyampaian pesan pemerintah karena sifatnya yang komunikatif dan penuh humor.


3. Seni Kriya: Mahakarya dari Tangan Terampil

Tasikmalaya adalah surga bagi para pecinta seni kriya. Kreativitas masyarakatnya dalam mengolah bahan alam menjadi barang bernilai seni tinggi tidak perlu diragukan lagi.

Batik Tasikmalaya: Warna-Warni Priyangan

Berbeda dengan Batik Solo atau Yogyakarta yang cenderung menggunakan warna-warna tanah (sogan) dan motif yang kaku, Batik Tasikmalaya atau Batik Priyangan dikenal dengan warna-warnanya yang cerah dan berani seperti merah, hijau, ungu, dan biru. Motifnya terinspirasi dari alam sekitar, seperti tanaman, burung, dan kupu-kupu. Motif yang paling terkenal adalah Merak Ngibing (Merak yang sedang menari) dan Payung. Struktur motifnya lebih santai dan tidak terlalu terikat pada pakem keraton, mencerminkan sifat masyarakat Tasikmalaya yang terbuka.

Kelom Geulis: Alas Kaki Estetik

Secara harfiah, Kelom Geulis berarti “Sandal Kayu yang Cantik”. Terbuat dari kayu mahoni atau albasia, sandal ini diukir dengan motif bunga atau geometris dan sering kali dicat dengan teknik airbrush atau lukis tangan. Menggunakan Kelom Geulis bukan hanya soal alas kaki, tetapi tentang memakai sebuah karya seni di kaki.

Anyaman Rajapolah

Kecamatan Rajapolah merupakan pusat dari seni anyaman. Di sini, serat alam seperti pandan, mendong, bambu, dan rotan disulap menjadi tas, tikar, topi, hingga perabot rumah tangga. Teknik menganyam yang diwariskan secara turun-temurun ini merupakan bentuk seni rupa terapan yang menjadi tulang punggung ekonomi kreatif di Tasikmalaya.


4. Seni Sastra dan Keagamaan

Sebagai Kota Santri, literasi keagamaan di Tasikmalaya berkembang menjadi sebuah bentuk seni tersendiri.

  • Seni Kaligrafi: Di pesantren-pesantren besar di Tasikmalaya, seni menulis indah ayat-ayat suci Al-Qur’an (Khat) diajarkan secara mendalam. Banyak seniman kaligrafi asal Tasikmalaya yang memenangkan kompetisi nasional.

  • Nadhom: Ini adalah tradisi melantunkan bait-bait puisi berbahasa Arab atau Sunda yang berisi ajaran agama. Ritme dan intonasi dalam bernadhom memiliki estetika musik yang menenangkan dan religius.


5. Tantangan dan Pelestarian di Era Modern

Meskipun memiliki kekayaan yang luar biasa, kesenian di Kota Tasikmalaya menghadapi tantangan yang tidak mudah di tengah arus modernisasi dan digitalisasi.

Regenerasi Seniman

Tantangan terbesar adalah minat generasi muda terhadap kesenian tradisional. Banyak pemuda yang lebih tertarik pada budaya populer global dibandingkan mempelajari Lais atau Terbang Sebelas. Namun, pemerintah kota dan komunitas kreatif setempat terus berupaya mengadakan festival budaya tahunan, seperti Tasikmalaya Creative Festival (TCF), untuk memberikan panggung bagi para seniman lokal.

Digitalisasi dan Inovasi

Para pengrajin Batik dan Kelom Geulis kini mulai beradaptasi dengan teknologi. Pemasaran dilakukan melalui media sosial, dan desain produk mulai disesuaikan dengan selera pasar modern tanpa meninggalkan ciri khas tradisionalnya. Inovasi adalah kunci agar kesenian ini tidak hanya menjadi pajangan di museum, tetapi tetap relevan dalam kehidupan sehari-hari.


Penutup

Kesenian di Kota Tasikmalaya adalah cerminan dari jiwa masyarakatnya yang religius, kreatif, dan ulet. Dari liukan Payung Geulis yang anggun hingga dentuman rebana Terbang Sebelas yang sakral, setiap karya seni menyimpan cerita tentang perjuangan, rasa syukur, dan keindahan.

Menjaga kesenian ini tetap hidup bukan hanya tugas para seniman atau pemerintah, melainkan tanggung jawab kolektif seluruh lapisan masyarakat. Dengan menghargai dan memakai produk lokal, serta mengapresiasi setiap pertunjukan seni tradisional, kita turut memastikan bahwa “Mutiara dari Priyangan Timur” ini akan terus bersinar bagi generasi yang akan datang. Tasikmalaya bukan sekadar kota di peta, ia adalah sebuah kanvas besar di mana seni dan kehidupan menyatu dalam harmoni yang abadi.